facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Karya +
    • Cagar Budaya
    • Hunian
    • Usaha
    • Ibadah
    • Sosial Budaya
    • Manajemen Konstruksi
    • nonArsitektur
  • Ungkapan
  • Catatan
  • Tentang Kami

UngKAPAN arsitekku

Dalam arsitektur, salah satu elemen yang cukup penting adalah pagar. Jenis pagar beraneka macam dan bahan yang digunakan pun bisa beraneka ragam, salah satunya adalah dengan dengan menggunakan tanaman, yang biasa orang menyebutnya sebagai pagar tanaman. 

Tanaman pagar yang digunakan bisa beraneka ragam, ada yang memanfaatkan tanaman pucuk merah, teh-tehan, bambu, atau lainnya. Untuk kali ini yang akan kita bahas adalah cara merawat tanaman pagar teh-tehan supaya rapat dan tinggi.  


Merawat tanaman pagar teh-tehan (acalypha siamensis)  agar rapat dan tinggi membutuhkan teknik pemangkasan teratur, pemupukan, dan penyiraman yang tepat. Lakukan pembentukan sejak awal tanam dengan memangkas cabang samping agar tumbuh tunas baru yang lebih lebat dan padat. [1, 2, 3, 4] 
  1. Pemangkasan (Pembentukan & Kerapatan)
    • Pangkas Bentuk: Saat tanaman masih muda, pangkas ujung-ujung cabang samping secara berkala. Ini merangsang pertumbuhan tunas baru dari sela-sela batang, sehingga rumpun pagar menjadi lebih rapat dan padat. 
    • Jaga Ketinggian: Jika sudah mencapai tinggi yang diinginkan (misalnya 1 - 1,5 meter), pangkas bagian pucuk atas secara rutin agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi dan tetap sejajar. 
    • Frekuensi: Pangkas setidaknya 1 bulan sekali atau saat daun mulai terlihat berantakan. Bentuk bagian atas dan samping menggunakan gunting tanaman agar membentuk kotak atau kurva yang rapi. [1, 2, 6] 
  2. Penyiraman dan Kebutuhan Sinar Matahari
    • Penyiraman Awal: Pada masa awal tanam (usia 1–3 minggu pertama), siram tanaman secara rutin setiap hari untuk memastikan akarnya tumbuh kuat.
    • Setelah Dewasa: Setelah tanaman mapan, sirami 1–2 kali sehari tergantung kondisi cuaca. Pastikan kebutuhan air tercukupi terutama di musim kemarau.
    • Sinar Matahari: Tanaman teh-tehan membutuhkan paparan sinar matahari penuh (langsung) agar dapat tumbuh subur, padat, dan memiliki daun hijau yang lebat. [1, 3, 7] 
  3. Pemupukan dan Sanitasi
    • Pemberian Nutrisi: Berikan pupuk NPK secara berkala setiap 2–3 bulan sekali untuk memacu pertumbuhan daun dan batang. Anda juga bisa menambahkan pupuk organik atau kompos.
    • Penyiangan: Bersihkan area sekitar pangkal tanaman dari gulma atau rumput liar agar nutrisi terserap sempurna oleh akar teh-tehan. [8] 
Waktu terbaik untuk memangkas (meratakan) pagar teh-tehan adalah 2 hingga 4 minggu sekali [1]. 

Panduan Frekuensi Pemangkasan

  • Musim Hujan (2 Minggu Sekali): Tanaman tumbuh sangat cepat karena air melimpah. Pangkas lebih sering agar bentuk pagar tidak cepat berantakan [9].
  • Musim Kemarau (3–4 Minggu Sekali): Pertumbuhan tanaman cenderung melambat. Anda bisa memperpanjang jarak waktu pemangkasan.
  • Fase Pertumbuhan Awal: Jika pagar belum mencapai tinggi dan kerapatan yang diinginkan, pangkas ujung pucuknya setiap 2 minggu sekali untuk merangsang percabangan baru. 

Tips Tambahan

  • Jangan Menunggu Terlalu Lama: Jika dibiarkan lebih dari 6 minggu, bagian dalam pagar akan kekurangan sinar matahari. Hal ini menyebabkan daun bagian dalam rontok dan pagar menjadi botak/berlubang saat dipangkas nanti.
  • Waktu Pemangkasan: Lakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah ujung daun yang baru dipangkas menjadi kering dan menguning akibat terik matahari siang.

Dengan tinggi pagar berkisar antara 160 hingga 180 cm, pagar teh-tehan Anda sudah ideal untuk menjadi pembatas privasi rumah (area) yang sangat kokoh. Pada ketinggian ini, tantangan utamanya adalah menjaga kelurusan dinding pagar dan merapikan bagian atasnya yang mulai sulit dijangkau secara manual. [9] 

Strategi Meratakan Pagar Tinggi (160-180 cm)

  • Gunakan Tali Pembatas (Sangat Penting): Tarik tali rafia secara horizontal dari ujung ke ujung pagar di ketinggian target (misalnya pas di 170 cm). Tali ini berfungsi sebagai panduan visual agar potongan bagian atas tidak miring atau bergelombang.
  • Teknik Memotong Dinding Samping: Potong dengan arah dari bawah ke atas. Cara ini mencegah dahan yang sudah terpotong tersangkut di dahan bawahnya, sehingga Anda bisa melihat permukaan pagar yang belum rata dengan lebih jelas.
  • Bentuk Sedikit Trapesium: Usahakan bagian bawah pagar sedikit lebih lebar daripada bagian atas. Bentuk trapesium tipis ini memastikan daun di bagian paling bawah tetap mendapatkan sinar matahari penuh agar tidak botak atau meranggas.


Rekomendasi Alat Potong Terbaik
Mengingat pagarnya cukup tinggi dan membutuhkan jangkauan ekstra, berikut adalah opsi alat yang paling efektif:
  • Gunting Pagar Tanaman Teleskopik:
    • Gagangnya bisa diperpanjang (teleskopik) sehingga Anda tidak perlu terlalu sering mendongak atau berjinjit saat merapikan bagian atas pagar.
    • Cocok untuk perawatan rutin berkala jika panjang pagar rumah Anda tidak terlalu luas.
  • Cordless Hedge Trimmer:
    • Mesin pemangkas pagar otomatis berbasis baterai (tanpa kabel) yang sangat ringan dan efisien.
    • Sangat direkomendasikan jika pagar teh-tehan Anda memanjang sangat luas. Alat ini memotong daun dalam jumlah banyak sekaligus dengan cepat sehingga hasil permukaan pagar menjadi jauh lebih rata (simetris) layaknya taman profesional. [9, 10, 11] 


Apakah area pagar teh-tehan Anda ini sangat panjang mengelilingi rumah, atau hanya sepanjang halaman depan saja? 

Jika hanya untuk pagar depan rumah, penggunaan gunting tanaman manual sudah sangat cukup dan ekonomis. Anda tidak perlu membeli mesin pemangkas baterai yang mahal, kecuali jika Anda ingin menghemat tenaga dan waktu.

Cara Praktis Meratakan Pagar Depan Rumah

  • Gunakan Alat Bantu Pijakan: Bila tinggi pagar mencapai 180 cm, siapkan tangga lipat aluminium kecil atau bangku kokoh. Jangan memaksa memotong bagian atas dengan menjinjit karena hasil potongan pasti tidak akan lurus.
  • Fokus pada Sisi Luar dan Atas: Bagian depan rumah adalah "wajah" tempat tinggal Anda. Prioritaskan meratakan sisi luar yang menghadap ke jalan dan bagian pucuk atas agar terlihat rapi dari luar.

Rekomendasi Gunting Manual Terbaik

Untuk pagar depan setinggi ini, Anda membutuhkan gunting dengan gagang yang bisa diperpanjang agar tidak cepat lelah:
  • Gunting Pagar Teleskopik: Jenis ini memiliki gagang besi/aluminium yang bisa dipanjangkan hingga 20-30 cm ekstra. 
  • Perawatan Alat: Setelah selesai memangkas, selalu bersihkan getah tanaman di mata pisau dengan kain, lalu olesi sedikit minyak atau pelumas (seperti minyak kelapa atau WD-40) agar gunting tidak berkarat dan tetap tajam untuk pemangkasan berikutnya.
Jangan lupa, bila perlu gunakan alat pelindung seperti sarung tangan agar tangan tidak kapalan saat menggunting.

Meskipun hanya berupa tanaman teh-tehan, pagar ini sudah memenuhi 3 fungsi utama dalam arsitektur, yakni fungsi pembentuk ruang (spasial), fungsi utilitas dan keamanan (fungsional), serta fungsi estetika (visual).  


| Jakarta, 24 Mei 2026 | samidirijono |
 (Hasil diskusi dengan AI, 17052026)



[1] Tanaman Teh-Tehan 
[2] Cara Membatasi Ketinggian Pohon Teh-Tehan 
[3] Teh-Tehan Tak Sekedar Pagar 
[4] Inspirasi Jenis Tanaman untuk Pagar Rumah 
[5] 18 Tanaman untuk Pagar Rumah yang Cantik & Rindang 
[6] Cara Membentuk Tanaman Teh-Tehan Untuk Pagar Halaman Rumah 
[7] Di mana Tanaman Teh Dapat Tumbuh dengan Baik? 
[8] Budidaya Mamey Sapote Hingga Panen 
[9] Mesin Potong Pagar Tanaman 
[10] Gunting Rumput Besar 
[11] Cordless Hedge Trimmer Mesin Pemangkas Dahan baterai BL519 A dan B 

Mei 24, 2026 No Post a Comment

Dalam perbincangan pagi 18 Februari 2010 di sebuah stasiun radio swasta, Nuim Khaiyath mengatakan, bahwa dalam buku Inside the Third World disebutkan salah satu ancaman bagi Indonesia adalah masalah banjir. Menurutnya hal ini terjadi karena tanah telah tertutup oleh bangunan semua sehingga curah hujan yang begitu besar tidak dapat terserap oleh tanah.

Pembicaraan mengenai banjir ini mengingatkan kembali perbincangan ringan kami beberapa waktu yang lalu. Salah satu yang menyebabkan air hujan langsung menyentuh tanah adalah karena dinas pertamanan kita punya kebiasaan yang salah, yakni memangkas pohon pada saat musim hujan. Memang alasan pemangkasan pohon biasanya adalah karena cabang pohon dikhawatirkan patah atau cabang pohon menjadi terlalu rendah sehingga mengenai kendaraan yang lewat di bawahnya.

Tidak tahu bagaimana di kota-kota lain, tapi di Jakarta ini bila kita perhatikan telah ada perubahan cara memangkas pohon yang dilakukan dinas pertamanan, ini terjadi sejak era Sarwo Handayani memimpin di dinas pertamanan dulu, pohon-pohon dipangkas atau lebih tepat mungkin bila istilahnya ditebang--karena biasanya setelah pemangkasan hanya tersisa batang pohon besar--sudah jauh lebih tinggi dari era sebelumnya. Yang tadinya "penebangan" pohon dilaksanakan pada ketinggian 2 hingga 3 meter, pada era Handayani telah dilaksanakan pada ketinggian 3 hingga 5 meter, meski cara pemotongan masih relatif sama, yakni babat habis hingga tinggal batang besar.

Dengan cara pemangkasan seperti itu, kelak beberapa tunas yang akan tumbuh menjadi cabang baru berkecendrungan terjadi di seputar bekas batang terpotong dan ini pula salah satu yang mengakibatkan cabang pohon mudah patah di kemudian hari, selain karena pohon angsana yang biasanya ditanam di bahu jalan di Indonesia ini dari Jakarta sampai Merauke atau Sabang memang bukan dari jenis kayu tanaman keras yang tidak mudah patah. Namun akibat cara penerapan kebijakan yang salah (keseragaman) di zaman yang lalu, tanaman ini akhirnya menjadi semacam tanaman wajib yang dapat kita jumpai di seantero negeri ini.

Penanaman angsana yang dipakai untuk menggantikan akasia sebelumnya, semula hanya dimaksudkan sebagai tanaman sementara yang berfungsi untuk peneduh dan penyerap polusi, karena kedua tanaman ini memang tergolong cepat pertumbuhannya. Rencana selanjutnya adalah di sela-sela jajaran pohon ini akan ditanami jenis pohon tanaman keras yang tidak mudah patah, guna menggantikan pohon-pohon angsana ini kelak, namun rencana ini tidak pernah terwujud.

Pohon besar dan rindang salah satu fungsinya adalah dapat menahan air hujan yang tercurah dari langit agar tidak langsung jatuh ke permukaan bumi (tanah) namun fungsi ini seperti sudah tidak begitu disadari oleh kita sekalian, karena sekarang ini sudah jarang terdapat pohon besar nan rindang yang dapat menjadi tempat berteduh di kala hujan. Padahal pohon besar nan rindang bisa menahan air dalam jangka waktu setengah hingga satu jam lebih sebelum air itu menetes atau pun mengalir melalui batang dan ini artinya memberi kesempatan air yang ada dipermukaan tanah meresap atau mengalir terlebih dahulu, sehingga ini menjadi salah satu unsur pencegah banjir.

Pohon rindang dari jumlah daunnya yang banyak menyebabkan ia mempunyai luas permukaan yang lebar sehingga dapat berfungsi menampung air dalam jumlah besar. Itulah pulalah sebab kenapa di kala hujan cabang pohon itu jadi lebih rendah dari biasanya atau bahkan bisa patah akibat menahan berat beban air yang cukup besar tadi. Jadi sebaiknya pepohonan tidak dipangkas di kala musim hujan, kalau pun terpaksa dipangkas sebaiknya hanya untuk cabang tertentu yang memang telah menjadi terlalu rendah.

Tulisan ini dapat melengkapi tulisan Banjir Karena Ulahku sebelum ini.

| 18 Februari 2010 | samidirijono | arsitek |

sumber: http://balaijumpa.blogspot.com/2010/02/pohon-rindang-unsur-pencegah-banjir.html

 

Februari 24, 2010 No Post a Comment

Saat ini bila Anda melewati kompleks istana akan terasa ada perbedaan nuansa yang terjadi di sana. Kompleks istana kini telah dikelilingi oleh pagar besi yang menjulang tinggi, tidak seperti dahulu di mana kita masih bisa merasakan kehangatan bila melintas di sekitar kompleks istana. Kini dengan ketinggian pagarnya yang mencapai lebih dari 2 kali lipat tinggi semula maka bila kita melihat ke arah istana akan tampak sederetan jeruji besi bak sebuah penjara. Sedangkan para narapidana yang ada dibalik jeruji besi itu tidak lain adalah bangunan-bangunan gedung di kompleks itu beserta orang-orang yang berada di dalamnya.

Istana saat ini memang berbeda dengan ketika di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, era di mana masyarakat kecil dapat masuk istana dengan lebih bebas walau hanya bersarung dan bersendal jepit. Di masa itu istana memang milik rakyat, rakyat bisa merasa memiliki istana yang bersahabat dengan mereka. Era sebelumnya, yakni di masa orde baru tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana dan di era sesudahnya aturan-aturan protokoler istana pun secara perlahan tapi pasti mulai diperketat kembali, tidak mudah bagi rakyat biasa untuk masuk istana. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi, dari hal kecil seperti jenis sepatu hingga celana pun menjadi persyaratan bila kita ingin bertemu dengan presiden maupun wakil presiden.

Masih tergambar dalam ingatan kita, sejak peristiwa penuh aib di bulan Mei tahun 1998 maka lingkungan arsitektur kita pun mengalami perubahan, kekerasan demi kekerasan berdampak secara langsung maupun tak langsung pada bangunan di sekitar kita. Dengan alasan prioritas keamanan maka bangunan pun berpagar tinggi. Bangunan negara pun berturut-turut dari Monumen Nasional (Monas), Bank Indonesia, gedung wakil rakyat (DPR/MPR), gedung Kejaksaan Agung, Masjid Istiqlal, hingga yang terakhir ini istana kepresidenan pun tak luput dipagari dengan pagar tinggi.

Dengan ketinggian pagar yang jauh melebihi tinggi manusia itu tentunya menimbulkan tanya pada masyarakat. Ada apa dengan negeriku? Semakin tak amankah negeriku kini, hingga gedung-gedung negara sampai istananya harus dipagari setinggi itu?

Tidak adakah aturan yang mengatur batas wajar ketinggian pagar? Bila aturan itu ada, kenapa hal ini bisa terjadi? Apalagi ini pun terjadi di gedung-gedung negara, yang membuat seakan-akan pelanggar aturan dikomandani oleh gedung-gedung negara.

Pertanyaan lain, di manakah hak-hak publik untuk melihat dan menikmati kotanya bila ruang-ruang publik telah dipenuhi oleh pagar-pagar yang menjulang tinggi?
| 22 Januari 2010 | samidirijono | arsitek |
(foto diambil dari koleksi pribadi dan berbagai sumber)

sumber: http://balaijumpa.blogspot.com/2010/01/kompleks-istana-semakin-tak-ramah.html
Februari 14, 2010 No Post a Comment
Older Posts

inFormasi

  • info Kegiatan
    pengendalian proyek konstruksi bangunan gedung 9 September 2026
    4 hari yang lalu
  • info LOKER ++
    Female Property Sales
    5 hari yang lalu
  • job vacancies
    Backend Developer, Backend Developer
    3 bulan yang lalu
  • job vacancies
    Backend Developer, Backend Developer
    3 bulan yang lalu
Perlihatkan 3 Perlihatkan Semua

HOT BULAN INI

  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Sejarah KEBAYORAN BARU
  • Penggunaan Kayu untuk Bangunan, Salahkah?

Populer

  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Pejaten Raya dan Pejalan Kaki
  • Nyaman di Kamar Mandi

terAnyar

perTinggal

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Mei (1)
      • Tanaman (pagar) Teh-tehan
  • ►  2025 (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2010 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (5)
  • ►  2009 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Mei (9)

ruang Baca

  • pos Ngakak
    Nasib Pensiunan Cari Kerja Tambahan
    1 minggu yang lalu
  • mariWARAS
    Air Dalam Tubuh Anda Bukan H₂O
    2 minggu yang lalu
  • camKan
    Andi Hakim Nasution Sang Ahli Statistika dan Matematika Negeri Ini
    2 minggu yang lalu
  • catatan sami
    Siapa Tak Kenal Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye?
    1 tahun yang lalu
Perlihatkan 1 Perlihatkan Semua

About me

foto
a r s i t e k   s a m i
di sini tempat kita berbagi dan diskusi seputar hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur ... selengkapnya tentang kami
arsitektur bencana elemen infrastruktur interior lingkung bina material panduan pedestrian penghargaan peraturan ruang publik sejarah sirkulasi udara tata letak transportasi

Created with by ThemeXpose