facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Karya +
    • Cagar Budaya
    • Hunian
    • Usaha
    • Ibadah
    • Sosial Budaya
    • Manajemen Konstruksi
    • nonArsitektur
  • Ungkapan
  • Catatan
  • Tentang Kami

UngKAPAN arsitekku

Dalam arsitektur, salah satu elemen yang cukup penting adalah pagar. Jenis pagar beraneka macam dan bahan yang digunakan pun bisa beraneka ragam, salah satunya adalah dengan dengan menggunakan tanaman, yang biasa orang menyebutnya sebagai pagar tanaman. 

Tanaman pagar yang digunakan bisa beraneka ragam, ada yang memanfaatkan tanaman pucuk merah, teh-tehan, bambu, atau lainnya. Untuk kali ini yang akan kita bahas adalah cara merawat tanaman pagar teh-tehan supaya rapat dan tinggi.  


Merawat tanaman pagar teh-tehan (acalypha siamensis)  agar rapat dan tinggi membutuhkan teknik pemangkasan teratur, pemupukan, dan penyiraman yang tepat. Lakukan pembentukan sejak awal tanam dengan memangkas cabang samping agar tumbuh tunas baru yang lebih lebat dan padat. [1, 2, 3, 4] 
  1. Pemangkasan (Pembentukan & Kerapatan)
    • Pangkas Bentuk: Saat tanaman masih muda, pangkas ujung-ujung cabang samping secara berkala. Ini merangsang pertumbuhan tunas baru dari sela-sela batang, sehingga rumpun pagar menjadi lebih rapat dan padat. 
    • Jaga Ketinggian: Jika sudah mencapai tinggi yang diinginkan (misalnya 1 - 1,5 meter), pangkas bagian pucuk atas secara rutin agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi dan tetap sejajar. 
    • Frekuensi: Pangkas setidaknya 1 bulan sekali atau saat daun mulai terlihat berantakan. Bentuk bagian atas dan samping menggunakan gunting tanaman agar membentuk kotak atau kurva yang rapi. [1, 2, 6] 
  2. Penyiraman dan Kebutuhan Sinar Matahari
    • Penyiraman Awal: Pada masa awal tanam (usia 1–3 minggu pertama), siram tanaman secara rutin setiap hari untuk memastikan akarnya tumbuh kuat.
    • Setelah Dewasa: Setelah tanaman mapan, sirami 1–2 kali sehari tergantung kondisi cuaca. Pastikan kebutuhan air tercukupi terutama di musim kemarau.
    • Sinar Matahari: Tanaman teh-tehan membutuhkan paparan sinar matahari penuh (langsung) agar dapat tumbuh subur, padat, dan memiliki daun hijau yang lebat. [1, 3, 7] 
  3. Pemupukan dan Sanitasi
    • Pemberian Nutrisi: Berikan pupuk NPK secara berkala setiap 2–3 bulan sekali untuk memacu pertumbuhan daun dan batang. Anda juga bisa menambahkan pupuk organik atau kompos.
    • Penyiangan: Bersihkan area sekitar pangkal tanaman dari gulma atau rumput liar agar nutrisi terserap sempurna oleh akar teh-tehan. [8] 
Waktu terbaik untuk memangkas (meratakan) pagar teh-tehan adalah 2 hingga 4 minggu sekali [1]. 

Panduan Frekuensi Pemangkasan

  • Musim Hujan (2 Minggu Sekali): Tanaman tumbuh sangat cepat karena air melimpah. Pangkas lebih sering agar bentuk pagar tidak cepat berantakan [9].
  • Musim Kemarau (3–4 Minggu Sekali): Pertumbuhan tanaman cenderung melambat. Anda bisa memperpanjang jarak waktu pemangkasan.
  • Fase Pertumbuhan Awal: Jika pagar belum mencapai tinggi dan kerapatan yang diinginkan, pangkas ujung pucuknya setiap 2 minggu sekali untuk merangsang percabangan baru. 

Tips Tambahan

  • Jangan Menunggu Terlalu Lama: Jika dibiarkan lebih dari 6 minggu, bagian dalam pagar akan kekurangan sinar matahari. Hal ini menyebabkan daun bagian dalam rontok dan pagar menjadi botak/berlubang saat dipangkas nanti.
  • Waktu Pemangkasan: Lakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah ujung daun yang baru dipangkas menjadi kering dan menguning akibat terik matahari siang.

Dengan tinggi pagar berkisar antara 160 hingga 180 cm, pagar teh-tehan Anda sudah ideal untuk menjadi pembatas privasi rumah (area) yang sangat kokoh. Pada ketinggian ini, tantangan utamanya adalah menjaga kelurusan dinding pagar dan merapikan bagian atasnya yang mulai sulit dijangkau secara manual. [9] 

Strategi Meratakan Pagar Tinggi (160-180 cm)

  • Gunakan Tali Pembatas (Sangat Penting): Tarik tali rafia secara horizontal dari ujung ke ujung pagar di ketinggian target (misalnya pas di 170 cm). Tali ini berfungsi sebagai panduan visual agar potongan bagian atas tidak miring atau bergelombang.
  • Teknik Memotong Dinding Samping: Potong dengan arah dari bawah ke atas. Cara ini mencegah dahan yang sudah terpotong tersangkut di dahan bawahnya, sehingga Anda bisa melihat permukaan pagar yang belum rata dengan lebih jelas.
  • Bentuk Sedikit Trapesium: Usahakan bagian bawah pagar sedikit lebih lebar daripada bagian atas. Bentuk trapesium tipis ini memastikan daun di bagian paling bawah tetap mendapatkan sinar matahari penuh agar tidak botak atau meranggas.


Rekomendasi Alat Potong Terbaik
Mengingat pagarnya cukup tinggi dan membutuhkan jangkauan ekstra, berikut adalah opsi alat yang paling efektif:
  • Gunting Pagar Tanaman Teleskopik:
    • Gagangnya bisa diperpanjang (teleskopik) sehingga Anda tidak perlu terlalu sering mendongak atau berjinjit saat merapikan bagian atas pagar.
    • Cocok untuk perawatan rutin berkala jika panjang pagar rumah Anda tidak terlalu luas.
  • Cordless Hedge Trimmer:
    • Mesin pemangkas pagar otomatis berbasis baterai (tanpa kabel) yang sangat ringan dan efisien.
    • Sangat direkomendasikan jika pagar teh-tehan Anda memanjang sangat luas. Alat ini memotong daun dalam jumlah banyak sekaligus dengan cepat sehingga hasil permukaan pagar menjadi jauh lebih rata (simetris) layaknya taman profesional. [9, 10, 11] 


Apakah area pagar teh-tehan Anda ini sangat panjang mengelilingi rumah, atau hanya sepanjang halaman depan saja? 

Jika hanya untuk pagar depan rumah, penggunaan gunting tanaman manual sudah sangat cukup dan ekonomis. Anda tidak perlu membeli mesin pemangkas baterai yang mahal, kecuali jika Anda ingin menghemat tenaga dan waktu.

Cara Praktis Meratakan Pagar Depan Rumah

  • Gunakan Alat Bantu Pijakan: Bila tinggi pagar mencapai 180 cm, siapkan tangga lipat aluminium kecil atau bangku kokoh. Jangan memaksa memotong bagian atas dengan menjinjit karena hasil potongan pasti tidak akan lurus.
  • Fokus pada Sisi Luar dan Atas: Bagian depan rumah adalah "wajah" tempat tinggal Anda. Prioritaskan meratakan sisi luar yang menghadap ke jalan dan bagian pucuk atas agar terlihat rapi dari luar.

Rekomendasi Gunting Manual Terbaik

Untuk pagar depan setinggi ini, Anda membutuhkan gunting dengan gagang yang bisa diperpanjang agar tidak cepat lelah:
  • Gunting Pagar Teleskopik: Jenis ini memiliki gagang besi/aluminium yang bisa dipanjangkan hingga 20-30 cm ekstra. 
  • Perawatan Alat: Setelah selesai memangkas, selalu bersihkan getah tanaman di mata pisau dengan kain, lalu olesi sedikit minyak atau pelumas (seperti minyak kelapa atau WD-40) agar gunting tidak berkarat dan tetap tajam untuk pemangkasan berikutnya.
Jangan lupa, bila perlu gunakan alat pelindung seperti sarung tangan agar tangan tidak kapalan saat menggunting.

Meskipun hanya berupa tanaman teh-tehan, pagar ini sudah memenuhi 3 fungsi utama dalam arsitektur, yakni fungsi pembentuk ruang (spasial), fungsi utilitas dan keamanan (fungsional), serta fungsi estetika (visual).  


| Jakarta, 24 Mei 2026 | samidirijono |
 (Hasil diskusi dengan AI, 17052026)



[1] Tanaman Teh-Tehan 
[2] Cara Membatasi Ketinggian Pohon Teh-Tehan 
[3] Teh-Tehan Tak Sekedar Pagar 
[4] Inspirasi Jenis Tanaman untuk Pagar Rumah 
[5] 18 Tanaman untuk Pagar Rumah yang Cantik & Rindang 
[6] Cara Membentuk Tanaman Teh-Tehan Untuk Pagar Halaman Rumah 
[7] Di mana Tanaman Teh Dapat Tumbuh dengan Baik? 
[8] Budidaya Mamey Sapote Hingga Panen 
[9] Mesin Potong Pagar Tanaman 
[10] Gunting Rumput Besar 
[11] Cordless Hedge Trimmer Mesin Pemangkas Dahan baterai BL519 A dan B 

Mei 24, 2026 No Post a Comment
Tulisan kali ini menampilkan diskusi ringan para arsitek dari generasi yang berbeda di grup WA tentang penggunaan kayu untuk bangunan, diskusi berawal dari komentar singkat Satrio Herlambang terhadap undangan mengikuti seminar daring (online) ikaned yang menampilkan gambar rumah kayu, “hehehehehee ... Arsitek Belanda masuk lagi ....” tulisnya. 

seminar yang diselenggarakan ikatan alumni nederland

Tak berselang lama Budi A Sukada menanggapi, “Masih pakai kayu? Pertanyaan saya selalu sama: berapa pohon yang ditebang untuk mendirikan karya seperti itu?”  Tampaknya hal ini dilakukan segera setelah melihat gambar bangunan berbahan kayu yang mencolok di poster itu.

Bonita DM Nainggolan pun teringat ketika membahas Stadion di Jepang dengan almarhum Ahmad Djuhara di salah satu grup. Jepang beda dengan Indonesia. Indonesia pakai kayu tidak dipikirkan berapa lama pohon pada akhirnya bisa dipakai untuk yang dibutuhkan. Hutan kayu pun bukan punya Eyangnya. Dia jadi ingat juga Tsunami Aceh. Pembalakan liar hutan mengambil Kayu untuk dibawa keluar Aceh, ketika terjadi Tsunami tidak bisa pakai kayu yang ada di hutan, Ilegal. Jadi (terpaksa) beli ke Kalimantan 😬😬😬

Menanggapi Budi Sukada, Satrio menyampaikan bahwa di Eropa baru nge-trend pakai GLT (Glue Laminated Timber) dan CLT (Cross Laminated Timber). Engineering Wood, timpal Bonita. 

ilustrasi penggunaan engineered wood pada bangunan

Menurut Budi Sukada, tetap saja pakai kayu, ujung-ujungnya tetap menebang pohon yang seharusnya dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Dahulu, besi dan baja dikembangkan secara massal dalam rangka menggantikan kayu dan batu. Eeh, sekarang malah pakai kayu lagi, tambahnya.

Atas penyampaian itu, Harry Mufrizon memberi argumen sebelum bertanya, “Saya suka nonton acara Treehouse Master, semua material dia kayu mulai dari balok yang ukuran lebih besar dari balok kayu kita, itu bagaimana Pak?” Bonita menguatkan bahwa dia menonton Waku-Waku juga begitu.

Mario Wibisono menambahkan informasi, kalau di luar negeri seperti di Amerika ada hutan industri yang memang sengaja ditanam untuk dipanen dan harus menanam lagi beberapa kali lipat dari yang dipanen.  Bonita pun menyampaikan, kalau di Indonesia banyak yang punya Hutan Jati milik Pribadi buat tabungan anak-anak mereka, buat Warisan, Namun menurut Mario, (sambil terkekeh) hehehe tetapi ujung-ujungnya tidak bisa dipakai tuh, karena harus ada suratnya dari Perhutani. “Iyaaaa mahal pula bayar sertifikat,” sahut Bonita 

Budi Sukada memberi jawaban bahwa dia tidak pernah percaya pada jaminan bahwa pemakaian kayu untuk bangunan akan selaras dengan tumbuhnya pohon baru yang layak-tebang.

Satrio pun mengejar dengan nada tanya, “Intinya tetap merusak lingkungan ya Pak Budi?”  
“Betul,” jawab Budi Sukada singkat.

Libradi Dwi Putranto yang jarang ikut diskusi jadi tergelitik untuk ikut berkomentar bahwa ia pernah berdiskusi dengan seorang teman, yang intinya:
Namanya lingkungan binaan sudah pasti merusak lingkungan. Nah bagaimana meminimalisir kerusakan yang terjadi (dalam konteks pemakaian bahan bangunan)?
  1. Memakai Kayu yang merusak hutan yang kayunya bisa ditanam kembali (walau saya setuju, apa iya ditanam kembali?)
  2. Memakai beton dan semen yang tidak merusak hutan tetapi menggerus gunung (yang tidak bisa ditumbuhkan kembali gunungnya)
Dilematis, walau akhirnya kami mengambil kesimpulan (sok pintar):
Pakai kayu (dalam hal ini kayu olahan dari hutan industri) SEPERTINYA lebih baik, karena bisa lebih sustain. Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku.

Dan kembali Budi Sukada meragukan hutan industri itu sustaining, baik dalam sistem maupun pelaksanaannya.

Ruben Tangido menyela karena teringat kata-kata almarhum Prof. Sandy Siregar waktu dia "disidang" sama para sesepuh gara-gara Sayembara Prambanan, "Arsitektur itu memang harus meng-intervensi."

Maka itu kita (arsitek) semua pendosa, hehe ... tandas Budi Sukada.

Kali ini baik Mario dan Libradi membenarkan dan setuju dengan pernyataan Budi Sukada itu. Di samping itu, Libradi punya pendapat kalau kayu gelondongan vs beton, mungkin sepakat beton. Ketika muncul kayu CLT, apalah lebih baik atau buruk, dia pun ragu (khususnya di Indonesia), tetapi masuk akal kalau pakai teori mendang-mending. 😅 Sama seperti mobil bensin vs listrik yang teorinya listrik lebih ramah lingkungan ... tetapi di Indonesia, PLN-nya masih pakai batu bara dan sumber lain yang tidak ramah lingkungan. Maka kesimpulan dia dan teman-teman, pakai kata "Sepertinya" dan ada tanda bintang "syarat dan ketentuan berlaku" dan masih mencoba mencari tahu, CLT itu makhluk apa dan apakah benar sustain?
Dalam pandangan Libradi diskusi ini menarik dan belum ada kesimpulan akhir, jadi masih penasaran untuk terus belajar.

Mario menyela bahwa kalau mobil listrik bahayanya justru di baterainya sebagai sampah yang susah diurai, hal itu dibenarkan oleh Libradi dengan menambahkan bahwa sebenarnya hal yang terlihat baik bisa jadi malah sebenarnya kurang baik, dan sebaliknya. Sebagai pendosa, kita kudu cermat pilih-pilih mana dosa yang paling sedikit? 😅  Dan bisa diulangi, timpal Mario.

Chairul Amal Septono yang sejak awal hanya menyimak berpandangan bahwa mungkin permasalahannya ada pada pemakaian (eksplorasi) yang berlebihan sehingga merusak keseimbangan ekosistem. Dan di penghujung diskusi Marwan Massinai memberi catatan, Arsitek, Eksplorasi, Sustainable, Energi terbarukan, Pendosa  tetapi ada namanya Teori ... Pembangunan tanpa Teori atau ada juga the Will to improve.

Dalam perjalanan hidupnya, apa yang disampaikan Budi Sukada tidaklah salah karena yang dia sampaikan adalah berdasarkan keprihatinan dan pengamatannya tentang kenyataan yang memang terjadi hingga saat ini, kita semua memang abai terhadap lingkungan (bumi) kita.  

Andai yang terjadi tidak demikian, bisa dipastikan dia akan bersikap biasa saja ketika melihat bangunan di poster tadi. Bagaimana tidak?  Negara dengan hutan tropis yang luas ini, kayu dengan kualitas 1 saat ini sulit didapatkan, kalau pun ada sangat mahal harganya, kayu yang beredar di lapangan kualitasnya buruk, orang bilang kayu "kelas kambing", yang kualitas 1 justru lebih banyak diekspor!

Penggunaan kayu memang merusak lingkungan tetapi dia sebetulnya jauh lebih mudah diperbaiki (ditanami lagi), dibanding besi dan baja yang juga sama-sama merusak lingkungan, (jangan lupa) mereka menebang pohon juga ketika mengeksplorasi, dan apabila habis tidak bisa (akan sangat lama) untuk pengadaannya kembali. 

ilustrasi penambangan besi 160.000 km2 di kurst, rusia yang seperti halnya freeport, kegiatan penambangan selain menebangi pohon juga mengakibatkan kerusakan lingkungan sangat parah

Penanaman kembali memang mudah dalam teori, mengingat kerusakan hutan (penghilangan pohon) terus terjadi dan semakin masif, bahkan untuk pengadaan food estate pun direncanakan membuka hutan (menebang pohon) hingga satu juta hektare.  Untuk itu SANGAT DIPERLUKAN kesadaran dan pengaturan yang amat ketat sekali yang harus dibarengi dengan hukuman (punishment) yang berat dan adil, agar hal-hal seperti pada “hutan” jati pribadi milik rakyat tidak pula jadi menyusahkan masyarakat.

Meski kayu banyak kekurangannya, seperti soal awet, muai susut, kekuatan, atau kerusakan lingkungan, tetapi sampai hari ini, rumah (horizontal) rakyat Amerika pun yang terbanyak pakai kayu.

rumah-rumah permanen di amerika pun sampai hari ini masih menggunakan kayu, meski dari luar tampak kayu, di ruang dalam kita bisa tidak merasa tinggal di rumah kayu. indonesia bisa menjadikan ini sebagai inspirasi ketika membangun rumah berbahan kayu, karena rumah itu tidak selalu harus bata

Biang kerok yang selalu jadi masalah adalah MENEBANG TIDAK DIBARENGI DENGAN MENANAM KEMBALI, apalagi memeliharanya! 

Andai para penebang pohon ini seperti masyarakat adat, yang meski (sepertinya) untuk pemeliharaannya masih diserahkan kepada alam, tetapi kita sudah punya contoh baik yang perlu terus ditebar dan dikembangkan. Ada Suku Kajang di Sulawesi yang tiap menebang 1 pohon dibarengi dengan menanam 3 atau 4 pohon yang sama atau Suku Besemah, Sumatera Selatan, memiliki tradisi unik setiap memasuki hutan, wajib menabur biji-bijian. Mereka menaburnya di area terbuka, baik akibat longsor atau ulah manusia. 

Selain itu, yang diperlukan adalah REKAYASA GENETIKA. Contoh pohon trembesi cepat besar tetapi batangnya tidak kuat, di lain pihak pohon jati atau mahoni kayunya baik tetapi lambat tumbuhnya.

Bahan dengan kerusakan alam yang bisa diminimalisir sebetulnya memang kayu. Bahan alternatif yang bisa digunakan dan dikembangkan serta cepat tumbuhnya adalah bambu, yang masih tergolong kayu juga. Bambu 6 bulan - 1 tahun sudah bisa dipanen, ada juga yang 4-5 tahun dipanen, tetapi masih kurang dimanfaatkan dan dikembangkan.

ilustrasi bambu sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan mengingat cepat pertumbuhannya (kiri) juga beberapa contoh jenis banbu yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan (kanan)

Kayu atau bambu musuhnya rayap dan lapuk. Besi dan baja musuhnya karat.

Bahan lain yang bisa dan perlu direkayasa serta dikembangkan untuk dimanfaatkan adalah LIMBAH.  Di konstruksi, limbah plastik telah mulai digunakan untuk pangaspalan, paving block, dan masih bisa dikembangkan untuk lainnya.

ilustrasi paving block yang dibuat dari hasil daur ulang sampah plastik

Ada juga Glass Fiber Reinforced Polymer  (GFRP) yang sebagai alternatif untuk pengganti tulangan beton. 

heydar aliyev cultural center karya zaha hadid menggunakan glass fiber reinforced polymer untuk selubung bangunannya 

Penelitian dan pengembangan masih perlu terus dilakukan, mengenai bahan alternatif apakah kayu, besi, baja, bambu, plastik, atau bahan-bahan campuran di antara mereka, ataupun bahan-bahan lainnya. 

Teknologi 3D printing pun telah merambah ke dunia konstruksi, menjadikan bangunan bisa diproduksi dengan cara di-print seperti layaknya kita mencetak tulisan atau gambar dengan alat cetak (printer).

ilustrasi pembangunan rumah menggunakan teknologi 3d printing menambah semarak dunia konstruksi

Memilih memang tidak mudah, tetapi pilihan harus dilakukan (tidak bisa dihindari) ....


| Jakarta, 15 April 2025 | samidirijono |
(sumber: diskusi grup WA tanggal 28 Agustus 2020 dan penambahan ilustrasi gambar dari berbagai sumber)
April 15, 2025 No Post a Comment

[Liputan Khusus]

Dominasi cat-cat yang sudah puluhan tahun eksis di pasar masih sulit ditembus cat-cat baru.

Banyak merek cat baru bermunculan dalam lima tahun terakhir: Catalya, Weatherproof, Novalux, Penta Prima, Carera, Epont Paint, dan lain-lain. Belum terhitung cat produksi rumahan yang dipasarkan di wilayah terbatas. Tapi, cat dekoratif berbasis air favorit developer perumahan (landed residential) di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) belum berubah dibanding 2005.

Cat ICI, Mowilex, dan Nipsea Paint masih mendominasi. Masing-masing punya beberapa merek sesuai segmen pasar yang dituju: Mowilex dan Cendana (Mowilex), Dulux, Catylac, Maxilite, dan Par Emulsion (ICI), serta Vinilex, Nippon, Matex, dan Q-Luc (Nipsea Paint).

Di belakang ketiganya menyusul Jotun, Pancasona, Starlex, dan kombinasi merek seperti Dulux/Q-Luc, Mowilex/Vinilex, Vinilex/Metrolite, dan Jotun/Bital Asia. Bahkan, di beberapa perumahan kombinasinya bisa lebih dari dua, seperti Mowilex/Catylac/Vinilex dan Nippon/Levis/Catylac/Flora. Levis dan Flora produksi Akzo Nobel (Belanda).

Misalnya, untuk eksterior dipakai Mowilex, untuk interior bisa Catylac atau Vinilex. Tergantung mana yang dirasa paling cocok saat rumah dibangun. Bisa juga Nippon atau Levis untuk eksterior, Catylac atau Flora untuk interior. Hal itu dimungkinkan karena banyak rumah dijual secara inden (menunggu) dan developer tidak memiliki kesepakatan mengikat dengan konsumen.

Kombinasi cat murah

Karena itu pilihan merek menjadi lebih luas, dari 10 pada survei 2005 menjadi 20-an merek pada survei 2007. Ini tidak terlepas dari situasi pascakenaikan harga BBM akhir 2005 yang sangat memukul daya beli sekaligus melambungkan harga bahan bangunan. Salah satu kiat developer menyiasatinya dengan melakukan improvisasi pilihan material selain menyesuaikan tipe rumah.

Jadi, sebagian tetap memakai Dulux, Mowilex, Jotun, atau Vinilex, sebagian memadunya dengan cat yang lebih murah dari pabrikan yang sama atau pabrikan lain, sebagian lagi beralih ke merek yang dinilai relatif setara tapi lebih murah atau bahkan merek yang belum dikenal.

Perbedaan harganya memang jauh. Berdasarkan survei Estate di sejumlah toko bahan bangunan di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan misalnya, Dulux Super Gloss (eksterior-interior) dijual Rp55 ribuan/liter, Catylac Emulsion (eksterior-interior) hanya Rp55 ribuan/5 kg. Mowilex Gloss Enamel (eksterior-interior) Rp950 ribuan/peil (20 liter), Vinilex (eksterior-interior) Rp200 ribuan per peil (25 kg).

Semuanya untuk warna standar (tersedia dalam kartu warna), bukan warna customized yang harus dicampur dulu melalui software khusus (mesin ting-ting) sebelum diproduksi. Umumnya cat mahal memakai satuan liter, cat menengah dijual dalam kemasan kilogram.

Pilihan merek yang luas itu juga karena jumlah perumahan yang disurvei kali ini lebih banyak, 100 perumahan dari hanya 80 pada survei 2005, dan semua developer bersedia menjawab. Pada survei 2005 ada 25 perumahan yang tidak mau menyebut cat yang mereka pakai. 

Makin berimbang

Dalam survei 2007 posisi ICI berimbang dengan Mowilex. Mowilex dipilih di 26 perumahan dan ICI di 23 perumahan, sekitar 70 persen masuk kategori perumahan menengah atas. ICI unggul di Depok (dipilih 6 dari 14 perumahan) dan Bekasi (4 dari 13 perumahan). Sementara Mowilex berjaya di Tangerang (9 dari 32 perumahan), juga di Bogor (7 dari 24 perumahan) dan Jakarta (4 dari 17 perumahan) dengan selisih tipis dibanding ICI yang dipakai 6 perumahan di Bogor dan 3 perumahan di Jakarta.

Setelah itu menyusul Nipsea, merek lain seperti Pancasona, Jotun, Decolite, dan Starlex, serta kombinasi dua merek atau lebih. Nipsea dipilih enam perumahan, semuanya perumahan menengah di Bodetabek, masing-masing dua di Bogor, Depok, dan Tangerang. Di perumahan menengah atas cat Nipsea dipakai sebagai kombinasi cat mahal. Misalnya, untuk eksterior memakai Mowilex atau Dulux, dan interior memakai Vinilex atau Q-Luc.

“Kami tidak mau hanya dapat untung besar. Kami ingin cat kami lebih banyak dikenal dan dipakai,” kata Hardjo Susanto, Marketing Manager PT Nipsea Paint and Chemicals, menjelaskan alasannya fokus di segmen menengah. Nipsea sendiri memiliki cat kelas atas, seperti Super Nippon Weatherbond yang antara lain dipakai di apartemen Amarapura, Lippo Karawaci (Tangerang).

Umumnya perumahan benar-benar memakai cat eksterior untuk ruang luar, dan cat interior untuk ruang dalam, dengan produk cat dari produsen yang sama atau berbeda. Itulah kenapa ada yang memakai Mowilex dan Dulux sekaligus. Ada juga yang memilih cat mahal untuk eksterior, cat murah untuk interior, atau bahkan cat yang lebih murah lagi untuk eksterior-interior.

“Untuk eksterior kita tetap pakai cat berkualitas. Tapi, untuk interior cat murah sudah cukup, asal pilihan warnanya cocok dengan gaya rumah,” kata seorang developer perumahan menengah atas di Serpong, Tangerang. Sementara seorang developer perumahan menengah di Bekasi Timur, berpendapat, ”Cat tak perlu mahal. Yang penting bisa bertahan tiga bulan (masa garansi rumah setelah serah terima),” katanya.

Lain lagi Henny Hendrawan, Marketing & Sales Director Mahogany Residence (Cibubur) yang memilih Jotun. “Material rumah menengah atas itu harus branded untuk menunjukkan yang kita jual memang produk berkelas,” ujarnya. Untuk itu ia sendiri yang menentukan spesifikasi dan merek bahan bangunan yang akan dipakai.

Variati Johan, Sales & Marketing Director Mowilex, menyatakan, mestinya pilihan cat didasarkan atas fungsi dan bukan segmennya. “Mau rumah BTN, rumah menengah, atau rumah mewah, catnya tetap harus berkualitas, karena rumah apapun butuh proteksi. Bagi konsumen jatuhnya justru lebih murah karena daya sebar dan daya tutup cat bagus itu lebih tinggi. Jadi, sekian tahun nggak perlu ngecat,” tuturnya.

Lebih siap

Mowilex, ICI, dan Nipsea tetap berjaya di kalangan developer karena sudah eksis lebih dari 30 tahun sehingga reputasinya sudah dikenal, jaringan distribusi luas, dan produk mudah diperoleh di toko-toko. “Nipsea adalah pionir cat tembok di sini. Saat Vinilex masuk akhir tahun 60-an, itulah awal orang Indonesia mengenal cat tembok. Saat ini pabrik kami mungkin yang terbesar, sekitar 90 ha, tersebar di Jakarta, Purwakarta, Gresik, dan Medan,” kata Hardjo.

Jangan heran meskipun yang langsung dipasarkan ke proyek tidak banyak, cat Nipsea tetap favorit. “Biasanya jika mereka (developer) sudah coba barang kami, selanjutnya akan pesan dari (pasar) ritel. Kami juga selalu menjaga kualitas. Harga murah, kualitas terjaga. Untuk cat sekelas kami orang jual Rp300 ribu, kami hanya Rp200 ribu. Jadi, yang sudah tahu akan pilih kami,” jelasnya.

Cat-cat lain, apalagi yang baru, meskipun relatif sama baiknya, tidak mudah menembus dominasi itu. “Belum dicoba toko sudah bilang cat kita jelek,” kata Bakti Gunawan, Managing Director PT Tirtamas Multi Karya, produsen Catalya dan Weatherproof. Ia perlu meyakinkan toko berkali-kali agar mau menjual catnya. Itu pun harus diiringi hadiah dan bantuan display. “Kalau tidak cat kita tidak dijual,” lanjutnya. Jotun yang sekelas dengan Dulux dan Mowilex juga belum banyak dipilih karena baru setelah krismon masuk Indonesia.

Pilihan warna cat ICI dan Mowilex pun lebih kaya. Warna-warna dasar seperti merah, kuning, dan hijau selalu ada. Kombinasi warna lain mengikuti tren. “Karena sekarang trennya modern minimalis, otomatis warna abu-abu naik,” kata Variati. Produsen juga menyediakan software yang bisa memproduksi warna-warna customized.

“Adanya jaminan warna-warna khusus itu membuat kita mudah mencocokkan dengan gaya rumah. Itu salah satu kriteria kami memilih cat,” kata Harimurti, Manager Operasional Puri Botanical Residence, Jakarta Barat.

Garansi produsen

Ketiga pabrikan juga intens menggarap pasar perumahan meskipun pangsanya lebih kecil dibanding pasar ritel, karena lebih efisien (cukup mendatangi developer), bisa menjadi alat promosi dan memperluas pasar ritel. Pasalnya, setiap rumah pasti akan dicat ulang (repainting). Bila pemilik puas dengan cat sebelumnya, ia cenderung akan memilih cat yang sama.

“Cat yang bagus itu awet. Setelah beberapa tahun warnanya tetap oke. Gradasi warna (seiring umur bangunan) akan terjadi tapi bertahap. Misalnya, dari hijau tua menjadi hijau muda. Cat tidak luntur dan mengapur kalau dipegang,” jelas Variati.

Untuk itu ada pabrikan yang membentuk divisi khusus yang menangani proyek. Tugasnya bukan cuma menjual cat tapi juga menyediakan jasa konsultasi, supervisi, sampai bantuan aplikasi. Jasa itu dibutuhkan karena cat bagus pun tidak akan optimal kalau aplikasinya tidak mengikuti aturan.

Puri Botanical misalnya, memakai Mowilex karena produsennya mau menyediakan aplikator. Jadi, harga sudah termasuk aplikasi. “Dengan begitu kalau hasilnya nggak bagus kita bisa komplain,” ujar Harimurti. Berbeda dengan produk lain yang bisa dilihat mereknya, cat hanya bisa diketahui kualitasnya setelah diaplikasikan.

Sementara Joko Santoso, Manager Realty Graha Kalimas (Bekasi), menyatakan memilih Dulux karena mutunya sudah teruji dan produsennya berani memberikan garansi sepanjang aplikasi di bawah supervisi mereka.

Produsen cat lain boleh jadi tidak melakukan hal itu, entah karena baru dan belum siap, terkendala dana, atau fokus menggarap proyek bangunan tinggi agar cepat dikenal. Karena itu jamak catnya belum menjadi pilihan developer perumahan.

Konsultan desain yang merancang rumah juga memengaruhi pilihan developer. ICI dan Mowilex banyak direkomendasikan karena rajin berinteraksi dengan komunitas itu melalui seminar, workshop, sayembara, dan lain-lain. “Mungkin ada cat lain yang tak kalah bagus. Tapi, kita tidak tahu karena tidak pernah disosialisasikan,” kata Samidirijono, seorang arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta. Yoenazh, Amel, Bunga

 

Sumber: http://www.housing-estate.com/index.php?option=com_content&task=view&id=939&Itemid=51

Mei 18, 2009 No Post a Comment
Older Posts

inFormasi

  • info Kegiatan
    pengendalian proyek konstruksi bangunan gedung 9 September 2026
    3 hari yang lalu
  • info LOKER ++
    Female Property Sales
    5 hari yang lalu
  • job vacancies
    Backend Developer, Backend Developer
    3 bulan yang lalu
  • job vacancies
    Backend Developer, Backend Developer
    3 bulan yang lalu
Perlihatkan 3 Perlihatkan Semua

HOT BULAN INI

  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Sejarah KEBAYORAN BARU
  • Penggunaan Kayu untuk Bangunan, Salahkah?

Populer

  • Pandangan dan Harapan Pengguna Jasa Arsitek Terhadap Arsitek Indonesia
  • Pejaten Raya dan Pejalan Kaki
  • Nyaman di Kamar Mandi

terAnyar

perTinggal

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Mei (1)
      • Tanaman (pagar) Teh-tehan
  • ►  2025 (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2010 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (5)
  • ►  2009 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Mei (9)

ruang Baca

  • pos Ngakak
    Nasib Pensiunan Cari Kerja Tambahan
    1 minggu yang lalu
  • mariWARAS
    Air Dalam Tubuh Anda Bukan H₂O
    2 minggu yang lalu
  • camKan
    Andi Hakim Nasution Sang Ahli Statistika dan Matematika Negeri Ini
    2 minggu yang lalu
  • catatan sami
    Siapa Tak Kenal Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye?
    1 tahun yang lalu
Perlihatkan 1 Perlihatkan Semua

About me

foto
a r s i t e k   s a m i
di sini tempat kita berbagi dan diskusi seputar hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur ... selengkapnya tentang kami
arsitektur bencana elemen infrastruktur interior lingkung bina material panduan pedestrian penghargaan peraturan ruang publik sejarah sirkulasi udara tata letak transportasi

Created with by ThemeXpose